Pariwisata RI Melonjak! Saat Dunia Bergejolak, Wisman Justru Naik dan Devisa Menguat

Pariwisata RI Melonjak! Saat Dunia Bergejolak, Wisman Justru Naik dan Devisa Menguat

Di tengah tekanan global dan dinamika ekonomi yang terus berubah, sektor pariwisata Indonesia justru menunjukkan sinyal positif yang menjanjikan. Kementerian Pariwisata menegaskan bahwa tren pertumbuhan sektor ini terus menguat, baik dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara maupun pergerakan wisatawan domestik.

Di tengah gejolak global dan ketidakpastian ekonomi dunia, sektor pariwisata Indonesia justru menunjukkan performa yang mengejutkan. Alih-alih melemah, data terbaru mengungkap bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air terus meningkat, bahkan menghasilkan surplus yang memperkuat devisa negara.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan bahwa tren positif ini menjadi sinyal kuat bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya pulih, tetapi juga semakin kompetitif di kancah global. Bersama Wakil Menteri Ni Luh Puspa, ia menegaskan bahwa pemerintah kini fokus pada kualitas, bukan sekadar kuantitas.

ā€œPariwisata Indonesia terus kami dorong agar tidak hanya tumbuh dari jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas dan berkelanjutan,ā€ ujar Menteri Widiyanti dalam laporan bulanan di Jakarta.

Lonjakan kunjungan wisman menjadi salah satu indikator paling mencolok. Pada Februari 2026, jumlah kunjungan mencapai 1,16 juta, meningkat 13,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, Januari hingga Februari 2026 mencatat 2,35 juta kunjungan tumbuh hampir 8 persen.

Menariknya, Malaysia masih menjadi penyumbang terbesar wisatawan, diikuti Tiongkok, Singapura, Australia, dan Timor Leste. Ini menunjukkan bahwa pasar regional tetap menjadi tulang punggung pariwisata Indonesia di tengah dinamika global.

Tak hanya dari luar negeri, pergerakan wisatawan domestik juga tetap solid. Pada Februari 2026, tercatat sekitar 91,14 juta perjalanan wisatawan nusantara. Meski pertumbuhannya relatif tipis, momentum libur panjang seperti Nyepi dan Lebaran menjadi pendorong signifikan.

Selama periode 13–29 Maret 2026, tercatat 12,77 juta perjalanan menuju destinasi prioritas dan regeneratif melonjak 18,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini memberikan dampak langsung pada sektor ekonomi lokal, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah.

Di sisi lain, tren menarik juga terlihat dari penurunan jumlah wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Pada Februari 2026, jumlahnya turun 7,64 persen dibandingkan tahun lalu. Secara kumulatif, terjadi penurunan 2,38 persen pada awal tahun ini.

Fenomena ini menciptakan surplus kunjungan wisatawan, di mana jumlah wisatawan asing yang masuk lebih tinggi dibanding warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Pada Februari saja, surplus mencapai 0,46 juta, dan secara kumulatif mencapai 0,64 juta angka yang turut memperkuat devisa pariwisata nasional.

Untuk menjaga tren positif ini, pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis terus dilakukan, mulai dari penguatan promosi internasional hingga kolaborasi lintas negara. Salah satu upaya besar terlihat dari partisipasi Indonesia dalam berbagai pameran global, termasuk ajang pariwisata terbesar dunia di Berlin.

Hasilnya tidak main-main. Dari rangkaian promosi internasional sepanjang Maret 2026, tercatat potensi devisa mencapai Rp17,2 triliun dengan lebih dari 552 ribu potensi perjalanan wisatawan. Ini menjadi bukti bahwa strategi promosi Indonesia mulai membuahkan hasil nyata.

Di dalam negeri, pemerintah juga memastikan kesiapan destinasi dengan melakukan peninjauan langsung ke lebih dari 170 titik wisata. Langkah ini bertujuan menjaga standar keamanan, kenyamanan, serta kualitas layanan bagi wisatawan.

Program Karisma Event Nusantara (KEN) juga menjadi salah satu motor penggerak utama. Dengan dukungan 125 event di 38 provinsi, program ini berhasil mendorong pergerakan wisatawan sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Tak hanya itu, digitalisasi dan penataan perizinan usaha pariwisata juga terus diperkuat. Hingga Maret 2026, jumlah usaha akomodasi yang terdaftar meningkat signifikan, menunjukkan semakin banyak pelaku industri yang masuk ke dalam sistem formal.

Meski dihadapkan pada tantangan global seperti geopolitik dan fluktuasi ekonomi, pemerintah tetap optimistis. Strategi adaptif dengan fokus pada pasar yang stabil seperti Asia Tenggara dan Asia Timur menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Bagi Sobat Growin, kondisi ini menjadi kabar baik sekaligus peluang. Artinya, sektor pariwisata Indonesia sedang berada di jalur yang tepat untuk terus berkembang, menghadirkan lebih banyak destinasi berkualitas dan pengalaman wisata yang semakin menarik.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, pariwisata Indonesia justru membuktikan satu hal: ketika strategi tepat dijalankan, krisis bukanlah hambatan melainkan peluang untuk tumbuh lebih kuat.

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy