Di kelas, Dolo mulai dikenal teman-temannya. Ia bukan anak yang paling tinggi atau paling kuat, tetapi hampir semua teman sepakat kalau Dolo termasuk anak paling pintar. Kalau Bu Guru memberi pertanyaan, tangan Dolo hampir selalu terangkat lebih dulu.
"Dolo, coba jawab."
"Dua belas, Bu."
"Betul."
Teman-temannya langsung menoleh.
"Wah... Dolo lagi."
Kalau ada tugas menggambar, hasil gambar Dolo juga selalu rapi. Kalau membuat prakarya, ide-idenya sering dipuji Bu Guru. Bahkan saat ada teman yang kesulitan menghitung, mereka lebih sering bertanya kepada Dolo daripada membuka buku.Pelan-pelan Dolo mulai punya banyak teman. Dulu ia lebih sering duduk sendirian. Sekarang setiap pagi selalu ada yang mengajaknya duduk bersama, bermain, bahkan berbagi bekal. Namun, sehebat apa pun pelajaran hari itu, semua anak sebenarnya menunggu satu hal yang sama.
Bel istirahat.
"Triiiinggg...!"
Suara bel baru berbunyi satu kali, seluruh sekolah langsung berubah riuh.
Anak-anak berlarian menuju halaman sambil membawa uang jajan di genggaman. Ada yang langsung mengantre telur gulung, ada yang membeli gulali warna-warni, ada yang mengejar penjual es Wawan, dan ada pula yang tidak membeli apa-apa karena takut kehabisan giliran bermain. Halaman sekolah mereka memang menjadi tempat paling ramai saat jam istirahat. Di sana terdapat berbagai permainan yang sederhana, tetapi bagi anak-anak SD rasanya lebih seru daripada taman bermain mana pun.
Ada jungkat-jungkit kayu yang sudah mulai berbunyi setiap kali dinaiki.
Ada ayunan besi yang selalu dipenuhi antrean.
Ada monkey bar yang bentuknya mirip jemuran raksasa.
Ada permainan loncat-loncat dari ban bekas yang ditanam di tanah.
Ada kuda-kudaan besi.
Dan yang paling terkenal...
Perosotan merah.
Masalahnya, permainan itu jauh lebih sedikit dibanding jumlah murid di sekolah. Siapa yang terlambat sedikit saja, siap-siap hanya kebagian melihat orang lain bermain. Dolo pun mulai mencoba semua wahana satu per satu. Permainan pertama yang dicobanya adalah jungkat-jungkit. Awalnya ia merasa seru.
Naik.
Turun.
Naik lagi.
Turun lagi.
Namun baru dua menit, wajah Dolo mulai berubah pucat, karena perutnya sakit seperti diaduk, Sejak hari itu Dolo memutuskan jungkat-jungkit bukan permainan favoritnya. Kemudian ia mencoba ayunan, awalnya pelan, semakin lama semakin tinggi, angin menerpa wajahnya. Begitu turun, ia berjalan sempoyongan.
"Dolo, kamu kenapa jalannya miring?"
Dolo menggeleng.
"Bukan aku yang goyang..."
"Terus?"
"Buminya."
Teman-temannya kembali tertawa. Ayunan pun dicoret. Monkey bar ternyata lumayan menyenangkan. Ia suka bergelantungan dari satu besi ke besi lain.
"Kenapa kamu suka monkey bar?" tanya Joni.
"Soalnya aku latihan."
"Latihan apa?"
"Kalau nanti berubah jadi monyet."
Joni melongo.
"Kamu monyet?"
"Bukan."
"Terus?"
"Monyet yang masih sekolah."
Tawa kembali pecah.
Namun, dari semua permainan itu, hanya satu yang benar-benar membuat Dolo jatuh hati.
Perosotan.
Menurut Dolo, perosotan adalah kendaraan tercepat di sekolah.
Capeknya cuma waktu naik tangga.
Begitu sampai atas...
"Syyuuuttt..."
Meluncur turun sambil tertawa.
Rasanya seperti naik roket.
Sayangnya, ada satu masalah besar.
Namanya Ovi.
Ovi adalah murid paling besar di sekolah. Badannya gemuk, suaranya keras, dan hampir semua anak segan kepadanya. Di kelas ia terkenal suka jahil. Kadang kotak pensil teman disembunyikan di bawah meja, kadang penghapus dilempar ke balik lemari, kadang tas teman dipindahkan diam-diam sampai pemiliknya panik sendiri. Saat jam istirahat, kelakuannya lebih parah lagi. Ia selalu memilih satu wahana, lalu duduk di sana selama mungkin. Kalau ada anak lain ingin bermain, Ovi akan berkata santai,
"Boleh..."
Anak itu langsung senang.
"Tapi bayar."
"Bayar apa?"
"Jajannya."
Karena takut dan ingin bermain, hampir semua anak menurut.
Ada yang memberikan ciki.
Ada yang memberikan permen, ada yang memberikan kerupuk.
Hari itu Dolo datang membawa jajanan kesayangannya. Pukis laba-laba, pukis hangat dengan meses cokelat yang banyak. Baru saja ia hendak naik tangga perosotan.
Ovi menghadangnya.
"Mau main?"
"Iya."
"Bayarnya mana?"
Dolo memandang pukis di tangannya. Lalu memandang perosotan, dalam hatinya terjadi perang besar.
"Pukis..."
"Perosotan..."
"Pukis..."
"Perosotan..."
Akhirnya ia menarik napas panjang.
"Maaf ya, Pukis..."
Dengan berat hati ia menyerahkan jajanan favoritnya. Ovi langsung melahap pukis itu dalam dua gigitan. Dolo hanya bisa melihat sambil menelan ludah.
Namun sore harinya, ketika duduk di samping Bu Chi, sebuah pikiran aneh muncul di kepalanya.
"Enak juga ya jadi Ovi..."
"Duduk doang, dapat jajan gratis."
Besok paginya, Dolo menghampiri Ovi dengan wajah serius.
"Ovi."
"Hah?"
"Aku punya usul."
"Usul apa?"
"Kamu nggak mungkin jagain semua permainan."
"Iya."
"Aku bantu."
Ovi mulai tertarik.
"Gimana?"
"Kamu pegang ayunan, jungkat-jungkit sama loncat-loncat."
"Aku pegang monkey bar sama perosotan."
"Semua jajanan yang aku dapat, setengah buat kamu."
Ovi mengusap dagunya.
"Hmm..."
"Oke!"
Mereka berjabat tangan layaknya dua pengusaha besar, padahal umur mereka belum genap 7 tahun. Hari itu "kerajaan wahana" resmi dibagi. Dolo berdiri di dekat perosotan sambil memasang wajah sok galak.
"Mau main?"
"Iya."
"Jajannya?"
Seorang anak menyerahkan telur gulung.
"Boleh."
Beberapa menit kemudian datang anak lain membawa gulali. Lalu ada yang membawa kerupuk. Ada pula yang membawa Es Wawan. Dolo menerima semuanya dengan senyum lebar. Saat hendak menikmati Es Wawan, ia menggigit ujung plastik terlalu besar.
"Byuuurrr!"
Sirup merah muncrat mengenai seragamnya sendiri. Dari kejauhan terdengar suara yang membuat seluruh halaman mendadak sunyi.
"Dolo..."
"Ovi..."
Bu Guru berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Beberapa murid berdiri di belakang beliau sambil mengadu.
"Bu... kami nggak boleh main kalau nggak kasih jajan."
Dolo langsung menunduk, Bu Guru tidak berteriak. Justru nada suaranya pelan.
"Permainan itu milik sekolah."
"Bukan milik kalian."
"Kalau semua harus bayar, bagaimana dengan teman yang tidak punya uang jajan?"
Kalimat itu membuat Dolo perlahan mengangkat kepala. Ia melihat beberapa teman yang hanya berdiri dari tadi. Mereka memang tidak membawa jajanan hari itu.
Berarti...Mereka sama sekali tidak bisa bermain. Saat itulah Dolo merasa dadanya sesak.
Ia baru sadar.
Ia memang tidak memukul siapa pun.
Tidak membentak.
Tetapi ia sudah membuat teman-temannya kehilangan hak untuk bermain. Persis seperti yang dilakukan Ovi. Sore itu, Dolo dan Ovi dihukum menulis huruf A memenuhi satu lembar kertas. Baru setengah halaman, tangan Dolo mulai pegal. Ovi bahkan berbisik pelan,
"Dol... kalau huruf B boleh nggak?"
Dolo hampir tertawa.
Namun Bu Guru berkata lembut ke Dolo,
"kamu anak pintar, tapi ingat..."
"Kalau kepintaran dipakai mengambil hak orang lain, itu bukan kecerdikan."
"Itu namanya kelicikan."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Dolo hingga pulang. Saat bertemu Bu Chi, Dolo memeluk beliau erat.
"Hari ini Dolo belajar satu hal, Chi."
"Apa itu?"
"Dapat jajan gratis ternyata nggak selalu bikin hati senang."
Bu Chi tersenyum sambil mengusap kepala Dolo.
"Karena rezeki yang paling enak, Nak, adalah yang didapat tanpa membuat orang lain sedih."
Dolo mengangguk pelan. Hari itu, untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah tetap memiliki hati yang baik, meski kadang godaan untuk berbuat nakal terasa sangat menggiurkan.