Mereka sadar, punya anak dengan rasa ingin tahu sebesar Dolo berarti rumah juga harus ikut belajar menjadi tempat yang lebih aman. Karena bagi seorang anak, dunia adalah laboratorium besar.
Semua ingin disentuh.
Semua ingin dicoba.
Semua ingin diketahui.
Hari Minggu selalu punya suasana yang berbeda di rumah kecil keluarga Dolo. Tidak ada suara alarm yang memaksa bangun pagi, tidak ada seragam sekolah yang harus disetrika dulu, dan tidak ada PR yang harus buru-buru diselesaikan. Anehnya, justru setiap hari Minggu Dolo selalu membuka mata lebih cepat dibanding hari sekolah. Seolah tubuh mungilnya sudah punya jam biologis sendiri yang berkata, "Ayo bangun, masih banyak hal di dunia yang belum kamu lihat!"
Matahari baru saja naik ketika aroma kaldu ayam mulai memenuhi setiap sudut rumah. Rumah mereka memang sederhana, memanjang sekitar 5 meter x 25 meter. Dari ruang keluarga menuju dapur belakang harus melewati lorong yang cukup panjang. Lantai keramik dingin, suara Bu Chi yang mondar-mandir, dan aroma masakan selalu menjadi ciri khas pagi di rumah itu. Hari ini Bu Chi memasak menu favorit Dolo, nasi hangatā¦irisan ayam gorengā¦kuah kaldu bening hasil rebusan ayam yang hanya diberi sedikit garam.
Sesederhana itu.
Namun bagi Dolo, rasanya seperti makanan terenak di dunia.
"Aaaa... buka mulutnya..." kata Bu Chi sambil menyuapkan sesendok nasi.
"Hmmm..." Dolo mengunyah sambil matanya terpaku ke televisi.
Kartun SpongeBob baru saja dimulai. Patrick melakukan tingkah lucu membuat Dolo tertawa sampai nasi hampir keluar dari mulutnya. Di sampingnya, Dino Brontosaurus kesayangannya ikut "menonton". Mainan itu sempat hilang beberapa hari terbawa Kak Tia camping di sekolahnya. Sejak ditemukan kembali, Dino itu hampir tidak pernah lepas dari genggaman Dolo.
Suasana rumah pagi itu begitu hangat. Bu Chi sesekali bolak-balik antara dapur dan ruang tengah sambil melipat baju yang baru diangkat dari jemuran. Kak Tia duduk bersila di lantai, sibuk menyusun puzzle Barbie yang entah kenapa selalu kurang satu keping.
"Eh... kepalanya Barbie ke mana sih?" gumamnya.
Sementara itu Pak Arto duduk dekat jendela dengan obeng di tangan. Kipas angin di depannya dibongkar seperti sedang menjalani operasi besar. Kalau sudah memegang obeng, biasanya mulut Pak Arto juga ikut bekerja.
"Ayah dulu waktu sekolah terkenal baik hati dan membela kebenaran..." katanya membuka cerita.
Kak Tia langsung tersenyum kecil, Dolo masih fokus makan, tapi telinganya diam-diam mendengarkan.
"Dulu ada anak kelas lain dibully anggota silat. Ya sudah, Ayah bantuin."
"Wah terus, Yahh?" tanya Kak Tia.
"Besoknya... tujuh orang nungguin Ayah di depan gerbang sekolah."
"Tujuh?"
"Iya. Tujuh."
Pak Arto berhenti sejenak, menarik napas panjang seperti sedang mengingat adegan film laga.
"Lalu?"
"Ya... Ayah lawan semuanya."
"Kok bisa?" Kak Tia mulai tertawa.
"Kan Ayah sering cari kayu bakar buat nenek. Otot Ayah kuat, kayak Samson." aktor film laga terkenal masa itu.
Pak Arto memperagakan gerakan pukulan.
"Jreng! Duk! Buk! Plak! Satu jatuh... dua jatuh... tiga kabur..."
Dolo sampai berhenti mengunyah, matanya membulat. Pak Arto melanjutkan dengan penuh percaya diriā¦..
"Akhirnya tujuh-tujuhnya kalah."
Bu Chi yang sedang melipat baju hanya melirik sambil tersenyum dan bergumam⦠cerita itu lagii, sudah 10x aku aku dengar.
"Iya... iya... yang penting kipas anginnya dulu dibenerin, jagoan." Lanjutnya.
Semua tertawa.
Entah cerita itu benar seratus persen atau sudah bercampur bumbu imajinasi, tapi bagi Dolo kecil, ayahnya memang seperti pahlawan. Setelah sarapan selesai, rumah kembali tenang. Pak Arto masih berkutat dengan kipas angin, Kak Tia melanjutkan puzzlenya, Bu Chi masih melipat baju daster.
Sementara Doloā¦Seperti biasa.
Mulai berpetualang.
Anak itu memang tidak banyak bicara. Ia lebih suka berjalan ke sana kemari memperhatikan apa saja yang ada di rumah. Langkah-langkah kecilnya selalu dipenuhi rasa penasaran.
Kadang membuka laci.
Kadang melihat isi ember.
Kadang memperhatikan cicak di dinding selama lima menit penuh.
Bu Chi sebenarnya sudah hafal, "Dolo jangan dimakan ya..."
Kalimat itu hampir setiap hari keluar dari mulutnya. Bukan tanpa alasan. Minggu lalu saja Dolo ketahuan memakan remahan semen yang mengelupas dari dinding kamar. Beberapa hari sebelumnya ia memasukkan kelereng ke mulut hanya karena penasaran. Belum lagi kebiasaan aneh memakan ingus sendiri.
"Aduh Gusti... bocah iki..." gumam Bu Chi waktu itu.
Hari itu langkah Dolo membawanya ke dapur belakang. Di atas meja kayu berdiri sebuah kompor minyak tanah tua. Di sampingnya terdapat wadah kecil berisi minyak tanah berwarna kuning kehijauan. Tutupnya sedikit terbuka karena baru saja dipakai Bu Chi memasak. Tak jauh dari sana, hanya sekitar satu meter, tergeletak sebuah sedotan plastik kecil bekas minuman gelas.
Mata Dolo berbinar.
Sedotan.
Ia tahu benda itu.
Sedotan dipakai untuk menyedot minuman.
Lalu pandangannya berpindah ke wadah kecil tadi. Di kepalanya yang polos mungkin hanya ada satu pertanyaan.
"Kalau ini minuman... rasanya seperti apa ya?"
Ia mengambil sedotan itu. Pelan-pelan sambil berjalan tertatih. Ujung sedotan mulai dimasukkan ke dalam wadah, lalu...
"Sluuuurpp..."
Cairan bening kekuningan langsung merambat naik di dalam sedotan, tidak lama dari ituā¦
"DOLLOOOO!!"
Suara Bu Chi menggema dari belakang. Ia baru saja masuk dapur dan langsung melihat anaknya sedang menyedot minyak tanah. Sedotan itu langsung direbut.
"Duh Gusti Allah!"
Bu Chi mencium bau menyengat dari bibir Dolo. Wajah Dolo mulai pucat, bibirnya membiru, tatapannya kosong.
"Pak! Pak Arto! Cepet!"
Pak Arto berlari sekencang mungkin.
"Ada apa?!"
"Dolo minum minyak tanah!"
Obeng langsung dilempar begitu saja.
Kipas angin yang belum selesai diperbaiki dibiarkan tergeletak. Tanpa pikir panjang Pak Arto menggendong Dolo, sementara Bu Chi mengambil jaket seadanya, motor tua mereka langsung dinyalakan.
Brummm...
Mesinnya meraung membelah pagi yang tadinya damai. Bu Chi masih memeluk Dolo dari belakang. Sepanjang perjalanan ia terus mengusap kepala anaknya.
"Nak... jangan tidurr... lihat Ibu..."
Namun Dolo hanya memandang sayu. Motor melaju sekencang mungkin menuju rumah sakit di desa sebelah. Pak Arto bahkan tidak peduli jalan berlubang. Yang ada di kepalanya hanya satu.
"Anakku harus selamat."
Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat segera membawa Dolo masuk ke ruang tindakan, pintu ditutup. Tinggal Pak Arto dan Bu Chi menunggu di luar, pagi itu rumah yang tadi dipenuhi tawa berubah menjadi sunyi. Jam dinding seperti berjalan lebih lambat. Lima menit terasa seperti setengah jam, sepuluh menit terasa seperti satu jam. Bu Chi menggenggam tangan Pak Arto. Air matanya mulai jatuh.
"Kalau tadi aku lebih awas..."
Pak Arto menggeleng.
"Bukan salahmu."
"Tapi..."
"Kita sama-sama nggak nyangka."
Tak ada lagi cerita heroik.
Tak ada lagi tawa.
Yang ada hanya dua orang tua yang berharap pintu itu segera terbuka membawa kabar baik. Hampir tiga puluh menit kemudian⦠Dokter akhirnya keluar, Pak Arto dan Bu Chi langsung berdiri bersamaan.
"Dok... anak saya bagaimana?"
Dokter tersenyum tipis.
"Alhamdulillah..."
Satu kata itu saja sudah membuat napas mereka terasa kembali.
"Anaknya selamat."
Bu Chi langsung menangis.
"Minyak tanahnya belum sempat masuk ke lambung. Sebagian besar masih tertahan di tenggorokan sehingga kami bisa segera menanganinya. Keputusan Bapak dan Ibu langsung membawa ke rumah sakit sangat tepat."
Pak Arto menunduk.
"Terima kasih, Dok..."
Sore harinya Dolo diperbolehkan pulang. Di perjalanan pulang, mereka mampir membeli minuman susu probiotik kesukaan Dolo. Anak kecil itu kembali ceria seolah pagi tadi tidak pernah terjadi, namun bagi Pak Arto dan Bu Chi, hari itu menjadi pelajaran yang tak akan pernah terlupakan. Sesampainya di rumah, kompor minyak tanah dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Semua cairan berbahaya ditutup rapat dan diletakkan jauh dari jangkauan. Obat-obatan, benda tajam, bahkan korek api mulai disimpan di tempat yang lebih tinggi.Ā
Terkadang, rasa penasaran yang polos itu hanya membutuhkan satu detik untuk berubah menjadi sebuah petaka. Sejak hari itu, setiap kali melihat Dolo berjalan mengelilingi rumah sambil mengamati sesuatu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, Bu Chi selalu tersenyum kecil sambil berkata,
"Dolo... kalau penasaran, tanya Ibu dulu ya."
Dolo mengangguk pelan.
"Iya, Bu Chi."
Meski siapa pun yang mengenalnya tahu, anggukan itu mungkin hanya berlaku... sampai ia menemukan hal menarik berikutnya.